Berubah-ubah

  • 0

Berubah-ubah

Category : Karya Tulis Siswa

sebuah cerpen dari Nabilla Putri R.

Suatu hari, ada sebuah rumah yang terdapat di sisi gedung-gedung tinggi yang mengapitnya, hiduplah seorang penulis terkenal bernama Alexander James, tetapi itu hanya nama tenarnya saja. Alex yang asli adalah seorang wanita. Tidak ada yang tahu kalau seorang penulis terkenal, Alexander James adalah seorang wanita. Namanya yang sebenarnya adalah Alexandra Anderson, wanita yang suka menulis buku, umurnya kira-kira 27-28 tahun-an. Dia suka menulis buku fiksi petualangan, dengan tokoh yang terkenal pula, Alexander James! Ya, benar nama tenarnya. Judul bukunya salah satunya adalah Mysterious Amigos, Milan Adventure, 13th Jones Street, 14th Jones Street, No Way Out, dan masih banyak lagi dengan tokoh yang sama!

Ia menceritakan seorang pria pemberani yang telah melakukan petualangan sejak ia berumur 10 tahun. Ia telah menyelamatkan nyawa banyak orang dan membawa orang-orang jahat ke penjara. Nama Alexander James sangat terkemuka di benua Amerika. Sudah banyak buku yang ia terbitkan tentang Alexander James, si petualang. Sering kali Alexandra merasa bahwa jiwanya menyatu dengan tokohnya, Alexander. Padahal ia adalah seorang yang phobia keluar rumah. Dia tidak berani keluar rumah bawaan ketika ia lahir. Dan ia hanya suka memandangi layar komputernya untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari. Bahkan ia tidak berani mengambil koran yang ada didepan pintu rumahnya! Terkadang ia memaksa pengantar koran untuk menaruhnya kedalam pintunya lewat bolongan surat. Ia hanya hidup sendiri dirumahnya yang bisa dibilang besar untuk seorang yang tinggal. Di rumahnya yang hangat, nyaman, semuanya ada didalam rumahnya! Termasuk alat untuk gym. Padahal rumahnya yang didaerah perkotaan dekat sekali dengan supermarket, tempat gym, salon, mall, dll! Ia mengetahui dunia karena ia sering meng-email petualang-petualang asli. Tetapi dia juga seorang vernian tetapi ia juga phobia keluar rumah! Oh… Aku belum memberitahumu apa itu vernian? Oke, vernian itu penyakit. Penyakitnya seperti suka berkhayal tentang tempat-tempat yang tidak mungkin tapi mungkin. Apa kau masih bingung? Oke, akan ku jelaskan lebih sederhana lagi. Vernian adalah penyakit berkhayal tempat-tempat yang aneh, tetapi yang dikhayalkannya itu akan menjadi kenyataan kalau benar-benar mau didatangi. Kau sudah tahu? Kalau belum mungkin bisa searching. Apa fungsi internet? Itu mudah bukan hanya mengetik satu kata saja sudah ratusan juta hasil pencarianmu. Oke, kita lanjutkan bercerita. Saat ini ia mau membuat buku tentang Alexander James yang berpetualang ke pulau misterius yang terletak dibenua asia. Ia terinspirasi oleh buku yang ditulis oleh Taylor G. Taylor G juga termasuk kaum vernian dan juga menulis buku tentang pulau misterius.

 

***

 

Dipagi hari yang hujan rintik-rintik, ada tukang pos yang sedang menaruh surat ketempat surat yang ada di atas pagarnya dalam kondisi  hujan. Ia berusaha memberitahu pak pos yang menaruh surat tersebut, tetapi ia lupa bahwa jendelanya masih tertutup. Pak pos yang didepan pagar tersebut berpaling dari pagar rumahnya dan pergi. Ia yang sedang jogging di alat gym-nya pun terpeleset dan jatuh! Ia akhirnya mencoba untuk keluar rumah. Tetapi saat ia mencoba untuk membuka pintu, bayangan Alexander, tokohnya pun muncul.

“Alexandra! Apa yang kau lakukan?” tanya Alexander.

“Mencoba…” Balasnya.

“Ayolah Alex, bukan saatnya untuk bercanda”

“Ini bukan waktunya untuk bercanda kau tahu!” Kata Alexandra.

“Ah yaa sudah…” Balas Alexander.

Alex pun memegang gagang pintunya dengan percaya diri dan bersemangat. Ketika ia memutar gagang pintu itu, rasa percaya dirinya dan semangatnya mulai menurun, menurun, dan semakin menurun. Dibukanya pintu yang hanya seorang anak kecil saja yang bisa masuk, perasaannya saat itu sedang kacau. Akhirnya pintu sudah terbuka tinggal sedikit ia semakin deg-degan, setelah terbuka ia melihat kalau di luar rumahnya sangat silau, padahal kondisi langit sedang mendung, ia pun menutupnya kembali!

“Sudah ku bilang kau tidak bisa melakukan itu” Tiba-tiba Alexander mengejek.

“Bukan urusanmu” Jawab Alex ketus.

Alexander hanya mengehela napas. Dan Alex menjalani hidupnya seperti biasanya.

 

***

“Ugh… Bagaimana aku bisa tahu kalau tak ada satupun petualang yang tak tahu letak pulau ini! Padahal pulau ini berkoordinat yang jelas, tetapi semua berkata tempat itu hanya tempat yang dihuni oleh badai besar dan bangkai kapal… Huuufftttt… Aku lelah!” Keluh Alex yang sedang mengecek emailnya.

“Hanya ada satu cara…” Kata Alexander sambil mengunyah chips.

“Bagaimana caranya? Beritahu aku!” Tanya Alex.

“Kau yang menemukannya sendiri!” Kata Alexander sambil menaruh bungkus chipsnya.

“Kau gila?! Kau tahu aku kan?!” Tolak Alex.

“Hmmm… Saatnya untuk mencoba” Kata Alexander.

“Huuffftt”

Akhirnya Alex pun pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih.

Apakah aku bisa? Tanyanya didalam hati. 3 hari pun berlalu, ia masih teringat akan ucapan Alexander. Dengan tekad yang kuat akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke tempat itu yang terletak dibagian samudra pasifik.

 

***

 

“Maaf bu, anda tidak boleh membawa barang-barang ini” Kata petugas ketika mengecek travelling bag miliknya yang berisi makanan kaleng.

“Tapi tanpa ini aku tak bisa makan makanan yang lain. Kumohon” Mohon Alex.

“Tetap tidak bisa bu” Paksa petugas itu.

Bagus! Tak ada makanan kalengku lagi… Oh sup ku… Bagaimana aku hidup tanpamu… Ocehnya dalam hati karena tak ada makanan kalengnya lagi. Dia tak pernah keluar rumah, otomatis ia tidak tahu apa yang harus diluar rumah. Ia pun terdiam di dalam pesawat, lalu tertidur…

 

***

 

“Oiii… Alex, apa kau mendengarku? Hei… Bangunlah, kita sudah sampai…” Gugah Alexander.

“Ugh… Kita dimana?” Tanya Alex sambil menguap.

“Kita sudah di Palau” Kata Alexander sambil tersenyum.

Akhirnya Alex pun turun paling akhir dan ia berjalan menuju pelabuhan yang dekat dengan koordinat pulau misterius itu.

“Ehm, permisi. Apa anda yang bernama Peter Collins?” Tanya Alex kepada pria yang turun dari perahunya.

“Iya benar. Anda siapa ya?” Peter tanya kembali.

“Oh, saya Alexandra Anderson. Penulis buku tentang Alexander James” Kata Alex yang menjabat tangan Peter.

“Apa kau bercanda? Penulis buku tentang Alesander James adalah dirinya sendiri!” Kata Peter yang sedikit bercanda.

“Haha.. Maaf, kau yang kemarin menelponku bukan? Yayaya… Mari kita berangkat!” Sambung Peter.

“Maaf Alexander menggunakan X, bukan S” Kata Alex kepada Peter yang tidak bisa menyebut huruf X.

“Apapun itu terserah…” Kata Peter.

“Ayo berangkat!” Ajak Peter.

Huuffttt, orang yang menyebalkan! Tapi setidaknya trik di internet untuk berkenalan itu berhasil. Gumam Alex dalam hati. Akhirnya mereka berangkat.

 

***

 

Disaat perjalanan Peter bertanya pada Alex.

“Apa anda yakin kalau ini koordinat yang tepat?” Tanya Peter.

“Tentu! Kenapa?”

“Karena aku tahu hanya badai saja disana” Kata Peter yang mengakhiri pembicaraan mereka.

Alex tetap fokus pada bukunya tentang pulau misterius yang akan ia datangi. Bab I menunjukkan penumpang yang akan ke pulau itu.

“Sebaiknya kita harus kembali ke pelabuhan” Kata Peter ketakutan.

“Kenapa?” Tanya Alex.

Peter tidak menjawab namun menunjuk kearah utara.

“Tidak!” Kata Alex tetap kukuh dengan kemauannya.

“Kau mau mati?!” Tegas Peter.

“Tunggu, Bab I, Penumpang akan terhisap badai” Kata Alex sambil membuka bukunya.

“Ini bukan waktunya membaca buku kau tahu?!”

“Terserahlah..” Kata Alex.

“Kita harus kembali!” Kata Peter tegas tapi apa yang terjadi kau tahu? Kendalinya rusak, bagaimanapun mereka tetap akan terhisap oleh kekuatan badai itu.

“Oii, Alex apa kau gila?!” Kata Alexander tiba-tiba muncul.

“Mungkin, tapi ini yang tertulis dibuku!” Jawab Alex.

“Kau bicara dengan siapa?” Tanya Peter.

“Alexander. Tadi kau bilang mau kembali ke pelabuhan. Apa yang terjadi?” Tanya Alex penasaran.

“Kendali helikopternya rusak” Jawab Peter tenang agak gugup.

“APA?!” Kata Alex kaget.

Lalu kendali mereka rusak dan mereka terhisap kedalam badai….

 

***

 

“Ales, bangunlah!” Kata Peter yang tidak bisa menyebut huruf X.

“Aku dimana? Apa di surga?” Kata Alex.

“Tidak. Ayo bangunlah…”

Akhirnya Alex pun bangun dipesisir pantai.

“Kau benar kalau ada pulau di sini” Kata Peter yang mengagumi pulau itu.

“Sudah kubilang”

“Pulau ini seperti surga….” Kata Peter lagi.

Yah…. Memang benar, pemandangan disini sangat natural. Tak ada asap kendaraan. Bahkan hewan besar seperti gajah menjadi kecil sehingga bisa kita gendong dan hewan seperti kupu-kupu bisa kita naiki. Untuk kali ini pertama kalinya ia  keluar setelah kejadian yang membuatnya phobia keluar rumah.

“Jadi, apa yang kita punya disini? Pulau ini menciutkan kita” Tanya Peter yang kaget melihat  kupu-kupu menjadi besar.

“Atau pulau ini membuat kita menjadi raksasa?” Sambung Peter kembali karena melihat gajah menjadi kecil, dan bisa digendong.

“Ehm, yah memang secara biologis hewan yang besar berubah menjadi kecil, dan sebaliknya hewan kecil bisa kita tunggangi atau menjadi besar!” Jawab Alex.

“Mungkin kau harus melakukan penelitian terhadap pulau ini” Kata Peter.

“Hmmm, iya. Ayo kita kesana!” Ajak Alex.

“Mungkin kau sendiri bisa kesana, aku akan membuat tanda permintaan tolong yang terbuat dari tumput laut”

“Tidak bisa. Mana ada orang yang melihat rumput laut mu bila mereka harus terhisap terlebih dulu dikumpulan badai-badai yang besar?!” Jawab Alex.

“Hmmm, baiklah. Tapi aku menyalahkanmu jika aku mati tercabik-cabik!” Jawab Peter lagi.

“Aku kira ini berhasil” Kata Alexander tiba-tiba muncul dengan senyuman super manis.

“Yah…. Kau benar!”


Leave a Reply